Saturday, January 9, 2010

Posted by the prince of tennis at 4:54 AM 0 comments

Menyurusi Jejak Pemikiran WS Rendra



Judul: Rendra, Ia tidak Pernah Pergi
Tebal: xv + 388 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tahun: September 2009


Karya-karyanya Rendra tidak hanya respon terhadap kondisi di sekitarnya, namun juga menunjukkan berbagai gagasan mengenai kebudayan yang luas dan menembus waktu.
Itulah yang dapat ditangkap dari buku ini. Dari buku ini pertama-tama pembaca dapat melihat bagaimana "ketegangan" antara Rendra dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Ketegangan disebabkan Rendra melihat ada yang keliru dalam arah kebudayaan.


Rendra mencium bahwa kebudayaan Indonesia tengah berada dalam posisi yang tersingkirkan. Artinya, tidak banyak orang yang memikirkannya secara serius untuk memperbaiki keadaan, sebaliknya atas nama perkembangan ataupun pembangunan, perlahan-lahan kebudayaan masyarakat kian disisihkan, dan akar hal ini telah terjadi sejak masa kolonial.


Rendra mencontohkan bagaimana Herman Willem Daendels yang membangun jalan berdasarkan kepentingan perdagangan, pertahanan militer dan kekuasaan. Implikasi dari itu semua itu adalah tumbuhnya sebuah ruang metropolitan. Orang-orang desa yang sebelumnya melakukan perdagangan dengan pembagian waktu berdasarakan hari pasaran dan penghayatan kosmis, kini berebut mendirikan rumah tepat di tepi jalan yang dibangun oleh Daendels (hal. 216). Akibatnya, ketidakseimbangan kosmis terjadi.


Tentu saja hal semacam itu tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga pada masa kini. Ambil saja contoh pembangunan hipermarket di kota-kota besar. Keberadaan hipermarket tersebut tidak hanya menggeser pedagang kecil, tetapi juga telah mengancam keberadaan pasar tradisional.


Pada masa lampau pasar adalah tempat terjadinya pertemuan berbagai kebudayaan. Tetapi kini interaksi tersebut terancam. Proses tawar-menawar yang menjadi pemandangan lumrah di pasar tradisional kini digantikan dengan belanja yang menghilangkan hak pembeli untuk melakukan penawaran.


Itu sebabnya Rendra secara tegas mengungkapkan bahwa sesuatu yang bersifat tradisional layak untuk dipertimbangkan kembali. Sebab bagaimanapun, tradisi lama dan kearifan tradisional dapat diolah kembali untuk memperkuat kohesi masyarakat, sekaligus sebagai modal untuk membangun bangsa dengan lebih baik dan manusiawi.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah hal yang dilakukan oleh Rendra merupakan sesuatau yang sia-sia? Bukankah pementasan teater maupun pembacaan sajak yang dibawakan oleh Rendra tidak banyak membawa perubahaan secara signifikan?


Ternyata Rendra memiliki idealisme tersendiri dalam hal tersebut.. Bagi Rendra. Seperti dikutipkan oleh Mudji Sutrisno dalam tulisan dalam buku ini, Fenomena Koko dan Rendra Secara Budaya (Hal. 53), bahwa bagi Rendra seseorang boleh saja merasa lelah dan merasa sia-sia memikirkan gambaran keadaan manusia masa kini, namun ia tidak boleh berhenti berjuang dan bersuara memperjuangkan tegaknya martabat manusia Indonesia.


Rasanya, ungkapan Rendra tersebut bukan tanpa alasan. Rendra sendiri yakin bahwa Indonesia masih memiliki masa depan. Ini dapat ditangkap lewat ucapannya dalam sebuah wawancara. Menurut Rendra Indonesia masih punya masa depan selama masih ada pengusaha menengah dan orang-orang muda.


Menurutnya, pengusaha menengah telah terbukti kekenyalannya sejak masa tanam paksa di jaman Belanda. Kini pengusaha menengah telah dapat menyerap tenaga kerja hingga 30 juta orang. Sedangkan anak muda, dalam pengamatan Rendra, kini semakin banyak melahap buku-buku humaniora, dan semakin kritis dalam menggugat masalah-masalah kebangsaan. Bagi Rendra, fenomena ini merupakan investasi budaya.


Selain itu, Rendra juga ternyata bukan sosok yang hanya memikirkan masalah kesenian. Ia pun memikirkan bagaimana orang-orang yang hidup dari kesenian. Rendra paham benar, di Indonesia orang tidak dapat hidup melulu dari kesenian. Bahkan ia dan anggota Bengkel Teater pernah mengalami kesulitan keuangan pada tahun 1970-an.


Menurut Rendra, sulitnya menggantungkan hidup dari teater disebabkan di Indonesia belum ada infrastruktur yang memungkinkan para pemain teater bisa berkarya secara total. Di sejumlah negara maju infrastruktur semacam itu sudah dibangun. Di negara-negara semacam ini para penggiat teater tidak hanya didukung oleh agen yang profesional, tetapi juga lembaga lain, sebutlah bank, yang siap mendukung kegiatan teater. Kenyataan ini menunjukkan bahwa seluruh pihak memang memiliki keperdulian terhadap kebudayaan,


Itu sebabnya Rendra bertekad untuk membuat orang-orang dalam Begkel Teater menjadi lebih sejahtera. Hal ini terungkap dalam wawancara dengan Rendra berkaitan dengan Bengkel Teater dan para anggotanya. Dalam wawancara yang dilakukan pada tahun 1989 tersebut, Rendra mengungkapkan keinginnya untuk mendirikan sebuah padepokan (hal.149)yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan kesejahteraan ekonomi anggota Bengkel Teater dapat terpenuhi.


Buku yang terdiri dari sejumlah tulisan yang ditulis oleh budayawan, sastrawan, sampai wartwan ini memang tidak dapat dikatakan mewakili secara keseluruhan gagasan kebudayaan seorang Rendra. Namun, paling tidak, terbitnya buku ini telah membantu terkumpulnya berbagai gagasan kebudayaan Rendra yang masih tercecer di berbagai media.****


Read More..
Posted by the prince of tennis at 4:52 AM 0 comments

Catatan Kompleksitas Soe Hok-Gie




Judul: Soe Hok-Gie..Sekali Lagi
Penulis : Rudy Badil, dkk
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal : xxxix + 512 Halaman
Tahun : Desember 2009


Soe Hok Gie adalah ikon gerakan mahasiswa. Ia telah menjadi inspirasi bagi banyak aktivis kampus di era tahun 1980-an hingga 1990-an. Bahkan catatan hariannya yang dibukukan dalam Catatan Seorang Demonstran, menjadi semacam bacaan wajib bagi peminat ataupun simpatisan dunia pergerakan.

Dari buku tersebut dapat dilihat bagaimana Hok-Gie merespon realitas. Jejak kegelisahan, semangat, perenungan, sikap maupun idealismenya dapat dilihat dari buku tersebut. Buku tersebut seolah menjadi representasi dunia batin adik kandung budayawan Arief Budiman itu.
Namun, sisi human interest dari Hok-Gie memang sulit untuk dilacak. Rasanya belum ada literatur yang mengungkap sisi ini. Padahal hal ini boleh jadi sisi yang "misterius" dari Hok-Gie, sebut saja bagaimana cara ia bergaul dengan karib serta koleganya, bagaimana cara ia menangani permasalahan di lapangan, ataupun bagaimana hubungannya dengan beberapa teman dekat wanitanya.

Kehadiran buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi, tampaknya mulai membuka sisi lain dari Hok-Gie. Sosoknya perlahan mulai terungkap meskipun tidak bisa secara utuh mengurai kompelksitasnya.

Buku ini berisi sejumlah tulisan dari beberapa sahabat dekat, rekan pencinta alam yang tergabung dalam Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) Universitas Indonesia, budayawan, peneliti, sineas, maupun aktor. Dari tulisan-tulisan inilah dapat diketahui mozaik lain dari Hok-Gie.

Penulis pertama buku ini adalah Rudy Badil, salah seorang anggota Mapala UI yang ikut serta dalam pendakian ke Semeru pada pertengahan bulan Desember 1969. Di bagian awal inilah Rudy menceritakan apa yang dialaminya pada hari-hari saat-saat terakhir bersama Hok-Gie.
Tulisan ini diletakan di bagian awal karena memang kisah inilah yang paling tragis dari Hok-Gie. Di bagian ini dikisahkan saat-saat terakhir Rudy Badil bersama Hok-Gie. Dikisahkan bagaimana ia sempat melihat Hok-Gie yang masih bertahan di puncak Semeru sementara pendaki lain sudah turun karena cuaca saat itu dianggap mulai tidak bersahabat.

Namun tidak lama setelah itu Rudy Badil diberitahu oleh pendaki lain bahwa Hok-Gie dan Idhan Lubis mengalami kecelakaan. Belakangan diketahui kematiannya itu disebabkan oleh gas beracun yang keluar dari kawah Semeru, gunung berapi yang masih aktif.

Dikisahkan pula bagaimana sulitnya proses evakuasi kedua jenazah tersebut. Hal ini disebabkan sulitnya menjangkau lokasi karena medan yang cukup berat. Namun, dengan bantuan penduduk setempat, kedua jenazah dapat diturunkan.

Dari sejumlah tulisan lain dalam buku ini, terungkap pula bahwa Hok-Gie adalah sosok idealis yang seakan tidak pernah takut kepada siapa pun selama ia yakin dengan sikapnya. Bahkan ia siap berhadapan dengan penguasa jika memang penguasa tersebut berbuat sesuatu yang dianggapnya mencederai rasa keadilan.

Tidak heran jika kritik mapun protes keras acap kali ia sampaikan kepada penguasa, terutama lewat tulisan-tulisannya di berbagai media massa. Hasilnya, Hok-Gie memang dianggap orang yang berseberangan dengan penguasa. Termasuk ketika Hok-Gie terang-terangan melawan Presiden Soekarno yang dianggap memberi ruang terlalu berlebihan untuk Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menariknya, meskipun Hok-Gie adalah seorang anti-komunis--ditandai dengan dengan terjun langsungnya ia ke arena perlawanan terhadap komunisme--tetapi dia tetap protes ketika terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI tanpa melalui proses di pengadilan.

Stanley Adi Prasetyo, Komisioner Komnas HAM Republik Indonesia yang menyumbangkan tulisan dalam buku ini, mengutip tulisan Hok-Gie untuk memperlihatkan sikap Hok-Gie, terhadap masalah pembantaian tersebut. Hok-Gie dalam dalam majalah Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat menulis, ketika pembunuhan dilangsungkan, para tawanan sering minta untuk segera dibunuh saja. Alasannya, mereka telah mengetahui bagaimana hidup mereka akan berakhir. Hal itu dilakukan karena mereka takut menghadapi siksaan atau cara pembunuhan mengerikan yang dilakukan oleh manusia yang menyebut dirinya ber-Tuhan (Hal. 349).
Hok-Gie memang sinis dengan ketidakadilan maupun kemunafikan. Ia tidak segan melakukan serangan terhadap realitas seperti itu. Untuk soal ini sikapnya hanya hitam-putih, tidak ada wilayah abu-abu. Dalam pandangannya, setiap kekeliruan harus diluruskan, meskipun itu dilakukan seorang pejabat yang memiliki otoritas.

Keiritisan Hok-Gie ternyata bersifat mengakar, hingga menyentuh persoalan agama. Dalam hal ini Hok-Gie tidak main mutlak-mutlakan. Ia yang mengaku mengalami "krisis kepercayan", menolak pendapat dari otoritas pemuka agama yang menyatakan bahwa agama yang mereka anut adalah satu-satunya agama yang akan mengantarkan manusia ke surga. Bagi Hok-Gie gagasan ini terlalu berlebihan. Baginya agama haruslah membawa pembebasan, dan bukan menjadi alat masyarakat untuk mencapai kepentingan tertentu.

Di balik itu semua ada sisi menarik lain dari Hok-Gie. Meskipun selalu berikap kritis dan tegas terhadap apa yang dilihatnya, toh tetap saja Hok-Gie adalah anak muda dengan dinamikanya sendiri, entah itu dalam pergaulan, komunitas hobi, kampus, sampai perempuan.
Dalam pergaulan misalnya Hok-Gie dikenal akrab dan terbuka dengan sejumlah kawan. Pembicaraan mereka pun sangat khas anak muda, termasuk subjek atau pembicaraan yang dianggap "menyerempet bawah perut"--begitu istilah Kartini Syahrir dalam buku ini.
Sisi lain kemanusiaan Hok-Gie yang ingin diungkap dalam buku inilah adalah kesepian yang dialaminya. Di tengah kegiatannya yang nyaris seakan tidak ada jeda, mulai dari menggalang massa mahasiswa turun ke jalanan, hingga naik gunung bersama pecinta alam lainnya, Hok-Gie adalah potret manusia yang dilanda sepi. Keironisan itulah yang ditangkap oleh Aris Santoso dalam buku ini. Inilah kesepian yang harus diterima Hok-Gie sebagai konsekuensi dari pilihan idealisme, keteguhan hati, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Jelaslah, buku ini bukan sebuah usaha untuk mengultuskan sosok Hok-Gie. Sebaliknya buku ini mencoba untuk memperlihatkan sosok Hok-Gie apa adanya, dari sudut pandang orang-orang yang mengagumi dan mencintainya.

Buku ini sebenarnya dapat lebih kaya jika surat-surat pribadi Hok-Gie hasil korespondensinya dengan sejumlah orang dapat dimuat. Bukankah ia disebut-sebut berkorespondesi dengan Ben Anderson, Daniel S Lev, David R Looker, Syharir, sampai Onghokham. Tentu saja hal ini perlu usaha yang lebih rumit untuk mengumpulkan kembali surat-surat yang dimaksud.

Namun demikian, kehadiran Soe Hok-Gie...Sekali Lagi sedikitnya dapat memberikan sebuah penggalan lain kisah seorang Hok-Gie. Kita pun diingatkan kembali bukan hanya kepada keberaniannya, tetapi juga persoalan bangsa Indonesia yang membutuhkan politisi serta pemimpin yang peduli, peka dan siap bekerja untuk kemajuan bangsanya tanpa pamrih.***


Read More..
Posted by the prince of tennis at 4:47 AM 0 comments
CERPEN : Kebahagiaan Yang Sirna

| Print Cerpen
Posting cerpen by: jofi_girl
Total cerpen di baca: 699 
Total kata dlm cerpen: 2196 
Tanggal cerpen diinput: Sat, 26 Dec 2009 Jam cerpen diinput: 10:19 AM
0 Komentar cerpen 

Pada hari sabtu sore, kak Joe sedang sibuk di kamarnya karena dia mau bersiap diri untuk pergi ke pesta. Tak lama kemudian, kak Joe sudah selesai, dia langsung menuju kekamar aku dengan langkah tergesa-gesa sambil teriak,” Cepetan dek!” celotehnya si kak joe. Akupun menjawab dengan sekuat tenaga,”ya..kak, hampir selesai kok.”Beberapa menit kemudian, aku pun keluar dari kamar dan menuju ke pintu depan rumah dimana kak Joe juga sedang menunggu. Tak lama kemudian kak Joe pun melihat aku dengan luar biasa. Pandangannya kepada aku tidak biasanya, akupun serontak menyakan,” Ada apa ya kak,ada yang aneh dengan diri aku.”“ Gak ada papa kok, hari ini kamu kelihatan sangat cantik dek, tapi jangan sampai cemberut ya….” Tanya kak joe“masa…sih, biasa tuh. Ayo kita berangkat entar telat loh..kak.!” jawab aku“ya..kamu betul dek. Ayo kita berangkat.” Sahut kak JoeSetelah itu kak Joe pun langsung mengeluarkan sepeda motornya dari halaman keluar. Dan akupun langsung naik sepeda motor itu bersama kakak aku. Didalam perjalanan menuju kepesta, kamipun saling ngobrol dan tanya jawab.“Dek, kalau kakak tak ada, kamu jaga orang tua kita ya sama adek kita. Dan yang paling penting jangan buat mereka menangis.” Celoteh kak Joe“Kakak bicara apa sih, jangan bicara yang aneh-aneh donk! Kakak kan gak pernah ninggalin aku!” sahut aku“Pokoknya kamu janji pada kakak kalau kamu tak kan buat mereka menangis dan jaga mereka ya!” jawab kak Joe“Ya..Yaa aku janji kok, kakak aku yang ganteng.” Jawab aku.Beberapa menit kita pun diam tanpa ada pertanyaan satu sama lain dan, kak joe pun mengendarai kendaraan dengan begitu kencangnya sampai akupun takut.“Kak, jangan cepat-cepat ntar kita jatuh loh.” Tanya aku“Tenang aja dek, kita gak kan jatuh kok!” jawab akuSelang berapa menit kemudian, tiba-tiba aku melihat sebuah mobil besar, yang sering aku sebut truck besar dihadapan aku yang sedang melaju berlawanan. Spontan aku teriak kepada kakak aku,”Awaassssssssssssssss!”Kak Joe pun tak sempat memberhentikan sepedanya, maka terjadilah sebuah kecelakan, yang menurut aku sangat tragis.Ketika terjadi kecelakaan itu, suaranya begitu sangat keras sehingga masyarakat yang ada disekitarnya pun sangat terkejut sehinnga semuanya keluar,Salah satu diantara mereka, langsung memanggil Polisi karena mereka tak berani langsung jika dia memanggil ambulance.Setelah polisi datang, maka ambulance pun dipanggilnya dan tak lama kemudian aku sama kak Joe dibawa kedalam ambulance tuk menuju rumah sakit terdekat. Dan Polisi itu pun langsung menghubungi orang tua aku mengabari kalau aku dan kak aku sedang di rumah sakit. Polisi itu dapat nomor telepon orang tua aku dari handphone aku yang jatuh itu, sedangkan handphone kakak aku hancur berkeping-keping dan berserakan kemana-mana.Beberapa jam kemudian, Orang tua aku tiba di depan rumah sakit dan langsung menuju ke lobby dan menanyakan ruang berapa aku dirawat, akhirnya mereka melangkahkan kakinya ke ruang kamar aku tapi dihadang sama polisi, polisi tersebut memberi kabar kalau aku dan kakak aku mengalami kecelakan di suatu tempat. Akhirnya pun polisi meninggalkan orang tua aku. Mereka menunngu aku dan kakak aku di luar kamar rawat. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari kamar rawat .“ Maaf, apa anda orang tua mereka yang sedang dirawat didalam.?” Tanya dokter“ Ya Dok, kami orang tua mereka! Bagaimana keadaan mereka dok?” tanya ibu“ Bisa kita bicarakan masalah ini, ke ruang saya aja.” Jawab dokterAkhirnya, orang tua aku dan dokter menuju ruang dokter, mereka pun mulai ada percakapan.“ Apa yang terjadi dengan kedua anak saya Dok!” tanya ibu“ Anak ibu yang cewek tidak apa-apa, hanya ada bagian dari badannya yang mengalami patah tulang.” Jawab si dokter“ Trusssss!” tanya ibu“ Kalau anak ibu yang cowok, Ibu harus sabar ya…….Anak ibu tak bisa kami tolong, Dia sudah pulang ke pangkuan-Nya.” Jawab dokter“Apaaaaaaaaaaa, Pak anak kita Joe sudah tak ada didunia ini”Celoteh si ibu sambil menangis“ Bu, kita harus sabar! Ini sudah takdir kita! Kita harus ikhlas terima apa yang terjadi dengan anak kita.” Celoteh si ayah“ Maaf dok, trus anak kami yang cewek dia pasti baik kan, dok!” tanya si ayah“ Anak anda pasti baik-baik saja tak ada masalah, Tapi……….”jawab dokter“ Tapi Apaaaaaaaa Dok, Katakan saja !” jawab ayah dan ibu“ Jika anak ibu selama 24 jam tidak siuman, maka anak ibu akan mengalami koma. Karena kepala anak ibu terbentuk benda keras.” Penjelasan okter“Komaaaaaaaa,…” tanya si ibuSetalah ayah dan ibu mendengar berita ini, berita yang sangat menyakitkan bagi mereka, tapi mereka dengan sabar dan ikhlas menerimanya. Dan mereka pun keluar dari ruang dokter dan menuju ruang rawat aku. Dan ayah aku pun memberitahu kepada ibu aku, kalau beliau harus mempersiapkan pemakaman kakak aku.Besok pagi hari, semuanya sibuk untuk mengurus pemakaman kakak aku.. Sedangkan saudara aku yang bernama Dhieka, dia yang menunggu aku di rumah sakit. Dan kak Dhieka mengucapkan doa “ Ya Tuhan Kau maha Kasih, Berilah kesembuhan bagi saudara aku ini, jangan kau ambil dia dari keluarganya, Jadikanlah dia seorang cewek yang tegar untuk hadapai semuanya.”Dia berkata dalam hati.Dia membisikkan kata-kata ke telinga aku,” cepat sembuh Gyet, semua sudah menuggu kamu.”Sore harinya, Ibu aku dating ke rumah sakit dan menuju ke kamar rawat aku dan bertemu dengan kak Dhieka. Akhirnya mereka pun saling ngobrol satu sama lain.“ Tante, sabar ya…..! aku yakin tante, Gyeta pasti kuat hadapi ini semuanya.” Tanya Dhieka“Ya, Tante tau kok Dhieka! Yang tante bingungin sampai sekarang tentang pertanyaan tentang kakaknya kelak.” Tanya ibu“Tante,………sekarang yang penting Gyeta siuman dulu. Kalau masalah itu, kita lupakan sebentar aja. Dan dhieka juga tau apa yang terjadi sama Gyeta selama dia masih sadar, kalau Gyeta punya masalah sama lambungnya kan, Tante.” Celoteh dhieka“ Ya dhiek, itu emang betul! Jawab ibu“ Oh ya, tante sudah makan! Aku belikan nasi di kantin ya…” Tanya Dhieka“ Sudah kok dhiek. Justru tante yang mau tanyakan ke kamu, apa kamu sudah makan dari kemaren?” tanya ibu“ Sudah tante, aku tadi pagi makan roti dan buah. Disini kan ada buah dan roti kan!” jawab Dhieka“Ya Tuhan Dhieka, Jadi mulai kemaren kamu belum makan nasi sama sekali.!” Tanya ibu dengan nada marah“ Belum…………..” Jawab Dhieka dengan nada yang sangat pelan sekali“ Sekarang kamu ke kantin dulu, Beli makan untuk kamu, jangan biarkan perut kamu kosong. Biar ibu yang disini.Tante gak mau lihat kamu sakit seperti anak tante ini.” Celoteh ibu“ Ya tante, Dhieka ke kantin sekarang.” Jawab DhiekaSetelah itu Dhieka pun menuju kekantin untuk membeli makannya, tapi dia pun seolah tak punya nafsu makan. Nafsu makannya hilang karena dia terus memikirkan keadaan aku yang sedang terbaring ditempat tidur. Setelah makannya selesai, dia langsung ke kamar rawat aku. Ketika Dhieka mau duduk, tiba-tiba ibu aku menanyaka sesuatu kepadanya.“ kamu sudah selesai makan, Dhieka!” tanya ibu“ Sudah tante.” Jawab dhieka“ Oh ya, diek, tante mau tanya sama kamu?” tanya ibu“ Tanya aja tante, tak ada yang aku rahasiakan kok.” Jawab dhieka“ kenapa kamu tuh sangat sayang sama gyeta, padahal saudar-saudarnya tidak seperti kamu. Tante merasa aneh banget?” tanya iu“Aneh Gimana sih Tante, aku nggak ngerti….!” Tanya dhieka“ Apa yang kamu rasakan ke Gyeta itu, rasa sayang pada saudaranya atau lebih. Maaf yaaa kalau tante berbicara itu kepadamu, dhieka!” tanya ibu“ Gak lah tante, aku tuh sayang samaaa gyeta, hanya sebagai saudara saja.” Jawab dhiekaTiba-tiba, Dhieka mempunyai pikiran yang sangat aneh di hatinya, fia pun bertanya pada hati kecilnya, apa benar yang dikatakan tante soal itu, Dhieka pun sadar apa yang selama ini dia lakukan sudah melebihi rasa kasih sayang kepada saudaranya, tapi kalau betul ini bukan rasa sayang kepada suadara tapi yang lain. Trus perasaan apa yang dirasakan oleh Joe saat itu, karena rasa yang diberikan oleh Joe saat itu melebihi rasa yang diberikan kepada adeknya. Aaaahhhhhhhhh, tak tau lah, perasaan apa ini, yang jelas saat ini, aku khawatir tentang keadaanya.Ketika Ibu melihat dhieka bengong atau melamun, dia memegang pundaknya dan Dhieka pun kaget bangaet saat itu.“ ah tante, buat orang kaget saja.” Tanya Dhieka“ Bukan tante yang buat kamu kaget. Tapi kamu sendiri yang buat kamu kaget.” Jawab ibu“ Kok aku, ya tante!” tanya dhieka“ Ya kamu………, karena kamu melamun saja. Emang kamu sedang mikirin apa?” tanya ibu“ Gak mikirin apa-apa kok tante, aku cuman bingung aja sama gyeta.” Jawab dhieka“ loh, emang kenapa dengan gyeta dhiek! Dia kan sekarang tak sadarkan diri sampai saat ini. Trus apa yang buat kamu bingung tentang dia?” tanya si ibu“ Gini loh tante, gyeta kan pernah cerita sama aku tentang seorang cowok yang suka sama dia, Namanya Roney. Dan katanya dia akan memperkenalakan dia sama Joe. Tapi dia belum sempat memperkenalkan roney kepada kakaknya apalagi dia sekarang terbaring tak berdaya.” Celoteh di Dhieka“ Oh itu, ya itu sudah takdir anak tante yang harus siap dijalani dan…..”jawab ibu tapi tiba-tiba diam seketika.“ Dan……., kenapa tante?” tanya dhieka“ Dan dia harus kehilangan kakak yang ia sayangi. Ketika dia akan sadar dari tidur panjangnya dia pasti akan menanyakan tentang kakaknya dan tante tak tau apa tante kuat mengatakan semuanya ini kepadanya.” Celoteh ibu sambil mengeluarkan tetesan airmatanya“Tante, harus kuat dan menceritakan apa yang sudah terjadi pada dia dan kakaknya.” Jawab ibu“Oh ya makasih ya Dhieka, kamu sudah menjaga anak tante yang sakit ini!” jawab ibu“Sama-sama tante, Gyeta juga saudara aku kok!” jawab dhieka“ Sekarang kamu pulang aja, kamu istirahat dirumah biar gak sakit sekalian. Kalau kamu sakit juga, kasihkan kan orang tua kamu juga.” Jawab ibu“ ya tante, aku pulang sekarang.” Jawab dhiekaAkhirnya kak dhieka pun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar rawat aku, sedikit demi sedikit dia pun semakin menghilang dari ruang rawat aku hingga aku pun tak bisa melihat dia. Disekitar aku, yang ada diruang rawat aku hanya ibu aku saja.Aku melihat kesedihan di mata ibu aku yang sedang menuggu aku yang terbaring dan tak berdaya. Seandainya waktu itu aku bisa berkata satu kata saja, aku hanya ingin bilang ke ibu aku, jangan lah ibu menangis.Tak lama berapa jam kemudian, Ibu aku pun berkata kepada aku yang tak berdaya, “ Cepatlah sembuh anakku, sebenarnya ibu, ayah dan adikmu sayang sama kamu. Semuanya merindukan dirimu seperti dulu meskipun itu tak bisa kita kembalikan sang waktu. Ibu sangat sayang kepadamu.” Jeritan ibu sambil meneteskan airmatanya yang kemudian airmata itu dihapuskan dengan sebuah kain kecil.Ketika aku melihat Seorang ibu aku yang menangis apalgi sampai mengeluarkan airmatanya, aku tak kuat melihat semua itu. Tak tau apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa meneteskan airmata yang keluar dari mataku setelah mendengar jeritan ibuku, jika aku bisa mengucapkan kata aku hanya bilang thanks ibu.Setelah bebrapa menit kemudian…Saat itu aku masih mendengar suara ibu aku yang sedang menangis dan meneteskan airmata. Tiba-tiba sebuah cahaya yang terang membawa aku kesebuah tempat yang indah. Dan tempat itu tak asing bagi aku, aku sepertinya sudah pernah kesini. Tapi aku lupa, kapan aku ketempat itu, aku bingung seorang diri disebuah tempat itu, tempat itu seperti sebuah taman yang begitu banyak pohon-pohon yang hijau tapi aneh,tempat itu tak ada orang lain kecuali aku, didepan aku begitu banyak kabut sehingga akupun begitu sangat takut.Kuterus melangkahkan kaki aku serta menelusuri sebuah tempat itu dengan rasa ketakutan, kuterus berjalan dan jalan tanpa henti hingga aku menemukan sebuah tempat istirahat, sebuah tempat duduk. Akhirnya akupun berhenti dan istirahat di tempat duduk itu, aku hanya duduk seorang diri sambil berkata,” Kenapa tak satu orang pun yang aku temui, sebenarnya aku dimana!” sambil meneteskan airmata. Tak henti-hentinya airmata aku yang aku keluarkan sampai ada seseorang yang berada didekat aku. Aku tak tau kapan orang itu berada didekat aku, aku tak melihat seseorang lewat didepan aku. Dia berkata,”Dek, jangan kau sedih! Kamu harus pulang ke ayah ibumu.” Akupun sangat terkejut setelah mendengar suara itu, Suara itu seperti suara kak Joe, aku pun langsung menatap dan menoleh disamping aku. Dan yang aku lihat benar itu adalah kak Joe, kaka yang aku sayangi.Akupun terus menanyakan kita sekarang ada dimana, tapi kak Joe tak menjawab satu pertanyaanku saja, dia hanya memeluk aku dengan erat dan terus mengucapkan,”pulanglah ke ayah dan ibu.” Setelah aku mendengar perkataan itu akupun terus berkata,” kakak juga pulang bersama aku ya…!” celoteh akuTapi apa jawaban yang aku dapat saat itu, tak da satu jawaban yang aku dapatkan. Aku pun begitu sangat heran dan aneh tempat apa ini, tapi hati aku mengatakan tak masalah karena kakak yang aku sayangi ada didekat aku sekarang bersambung.... 


Read More..
Posted by the prince of tennis at 4:45 AM 0 comments
CERPEN : I. Kenyataan Pahit Yang Harus DiHadapi

| Print Cerpen
Posting cerpen by: jofi_girl
Total cerpen di baca: 741 
Total kata dlm cerpen: 3264 
Tanggal cerpen diinput: Thu, 24 Dec 2009 Jam cerpen diinput: 6:17 PM
0 Komentar cerpen 

Sebut saja nama aku Gyeta, orang sering panggil nama aku dengan sebutan Gie. Aku punya satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Tapi aku lebih dekat dengan kakak laki-laki aku yang bernama yohanes, aku panggil dia dengan sebutan Jo. Aku dan dia selalu bersama-sama tak pernah pisah. Jika kita saling pisah kita satu sama lain akan merasa ada suatu kekurangan. Kami bukan dari keluarga yang elit tapi cukup lah untuk makan sehari-hari. Semua saudara aku tak ada yang bekerja karena kami semua masih sekolah. Kami terutama kak Jo yang tidak kuat melihat jika ayah dan ibu kita menagis di dalam kamarnya.Ketika aku pulang sekolah, aku masih sekolah SMP loh. Aku baru keluar dari gerbang sekolah setelah sampai didepan pintu gerbang sekolah, tiba- tiba langkah kakiku berhenti seketika, Aku terkejut sekali apa yang aku lihat saat itu, mungkin bagi orang lain itu biasa tapi bagi aku itu tak pernah terjadi. Aku melihat seorang cewek yang bernama Vita, dia adalah kakak kelas aku. Dia menangis di depan kak Jo, tak hanya itu dia tuh gila atau pa lah….Aku pun langsung menghampiri Kak Jo karena aku takut kalau kak Jo yang disalahin. Tak hanya Kak Jo yang aku takuti saat itu tapi aku penasaran apa yang buat Vita itu menangis hingga histeri.Aku langsung Tanya ke dia, “ Kak Vit, Kenapa kau menangis?” aku bertanya sambil menatap Kak Jo yang sedang bingung.“Aku….sudah melakukan apapun untuk Kakak kamu, tapi apa kenyataannya! Nothing.” Jawab si VitaMendengar Jawaban si Vita, aku pun makin bingung saat itu, apa yang sudah dilakukan oleh Kak Jo. Aku pun tak berpikir sangat jauh sekali kalau Kak Jo sudah berbuat lebih jauh sama Kak Vita. Disitu suasana masih ricuh banget, kak Jo hanya berdiam saja melihat Kak vita sedangkan aku sedang bertanya-tanya dalam hati aku ini. Aku pun serontak.“Diammmm…Apa kak Vita tidak bisa menyelesaikan secara tenang” Aku menjerit.Bukannya kak Vita malah tenang tapi malah semakin histeris saat itu. Aku pun langsung ambil langkah 100% dari perasaan aku. Aku langsung bertanya kepada kak Jo.“Kak Jo, sebenarnya apa yang terjadi, tolong jelasin kak jangan diam saja” Tanya aku.Dia pun menJawab dengan mudahnya,” Dik, Kamu tidak percaya sama kakak kandungmu sendiri. Aku tak berbuat apa-apa dik.”Aku pun makin bingung saja saat itu, aku pun tak tahu harus berbuat apa untuk mereka sedangkan aku tidak tahu permasalahan itu. Pikiran aku dan badan aku pun lemas seketika dan akhirnya aku pun pingsan seketika itu pula.Setelah sadar dari pingsan tersebut, tiba-tiba aku sudah ada di rumah sakit. Disitu ada Ayah, ibu, Paman, Tante, Vita dan kak Jo. Secara spontan akupun langsug membenci kak Joe dan kak Vita, aku sebenarnya tak punya alasan untuk membenci dia.“ Dik, kamu sudah siuman sekarang. Kak Jo takut kehilangan kamu dik.” Tanya si Kak Jo“ Kak Jo masih sayang sama aku, tapi aku benci sama kak Jo. Kak Jo jahat sama aku…” aku pun menjawab dengan nada yang sangat cetus sekali.“ Kau tidak seharusnya berkata seperti itu….” Sahut si VitaAku pun bingung sama kak vita, maunya apa sih dengan kak Jo, seketika dia menangis, sekejap dia baik sama kak Jo. Dia itu siapanya kak jo sih, aku pun bertanya dalam hati aku sendiri.“ kenapa kamu bela dia, dia kan sudah buat kamu menagis.” Tanya akuSi Vita pun tidak ada Jawaban satukata pun dia hanya diam dan diam.“Kak Jo bisa kau jelaskan apa yang terjadi………..” Tanya aku“ Okey…..aku akan jelasin semuanya kepada mu. Tapi kamu harus janji kalau kamu tidak akan takut sesuatu.” Jawab si kak Jo“ Takut…. Apa yang aku takutin Kak Jo!” Jawab akuKetika kak Jo mau menceritakan sesuatu tiba-tiba datanglah seorang suster dan akupun disuruh istirahat dan tak boleh berkata banyak. Maka dari itu akupun dikasih obat tidur. Akhirnya akupun tertidur dengan pulas setelah diberi obat tidur dari suster.Setelah aku tertidur, Dokter memanggil kedua orang tua aku dan kak Jo pun juga ikut. Mereka semua melangkahkan kakinya untuk menuju keruang dokter. Setelah sampai di ruang dokter. Dokterpun menjelaskan sesuatu kepada ayah, ibu dan kakak aku.“ Ibu dan Bapak, setelah saya melihat hasil tes anak anda yang bernama Gyeta dari labotarium yang menyatakan kalau anak anda punya penyakit tukak lambung.” Jawab si dokter“ Dok, apa penyakitnya sudah kronis atau masih gejala saja?” tanya si ibu“ Penyakit anak anda ini masih gejala saja tapi untuk menghindari hal yang buruk. Anak anda setiap bulan sekali mohon dilakukan check up lambung. Agar kita bisa mengkontrol.” Jawab si dokter“ Baik dok, kami akan lakukan yang terbaik untuk anak kami.” Jawab si ibuDitengah obrolan ibu sama dokter, tiba-tiba kak Jo menayakan sesuatu kepada dokter.“ Dok, apa adik saya ini bisa sembuh dengan penyakitnya!” Tanya si kak Jo“ Penyakit yang dideritanya tidak bisa sembuh, selamanya dia akan akan melakukan check up dan sedot asam lambung.” Jawab si dokter.Setelah beberapa menit kemudian si dokterpun melanjutkan perkataan yang menjelasakan pernyataan tadi.“ Adik anda bisa sembuh jika ada mukjizat dari Tuhan.” Jawab si dokter.Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Ayah, ibu dan kak Jo sangat sedih sekali saat itu sambil melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang dokter. Ayah dan ibu menuju kekamar yang merawat aku sedangkan kak Jo tidak menuju kekamar rawat melainkan dia menuju kesuatu tempat yang buat hatinya tenang dan nyaman. Dia menuju ke tempat doa, dia berdoa dengan ketulusan hatinya.“ Ya tuhan…Jangan Kau ambil adik yang aku sayangi. Kau adalah maha kasih, maha penyayang.Ya tuhan… jangan kau jauhkan dari sisiku, Kau beri dia untuk aku kini jangan kau ambil dia dari aku.Ya tuhan… jika aku bisa memohon, ambil nyawa aku sebagai pengganti nyawa adik aku.Tuhan…aku harus berkata apa kepada dia tentang penyakit yang dia derita.Amin”Setelah kak jo berdoa, dia pun tak lagi merasakan gelisah dan takut. Hatinya merasa tenang dan tentram. Akhirnya dia kembali menuju kekamar rawat adiknya. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya kepadanya. Setelah tiba, kak Jo dihampiri oleh kak Vita dan dia pun menanyakan sesuatu kepada kak Jo.“ Jo, kamu tidak apa-apa kan. Kamu habis dari mana sih Jo.” Tanya si Vita“ Aku baik-baik saja kok. Sebenarnya kamu tuh maunya apa sih dari aku…” Jawab si Jo“ Maksud kamu apa sih Jo, aku tidak mengerti…” sahut si Vita“ Ah lah kamu jangan pura-pura tidak ngerti lah…inikan mau kamu vit.” Tanya si Jo“ Okey..aku memang salah apa yang terjadi dengan adik kamu, dia kan hanya adik kamu bukan pacar kamu, kenapa sih Jo…kamu tuh menyanyangi adik kamu melebihi sayang kepada adiknya!” Jawab si vita“ Dari pertama kali kamu bilang kalau kamu suka sama aku, aku dah bilangkan kalau adik aku adalah hidup aku, aku tidak akan berikan sayang aku kepada orang lain kecuali kepada adik aku itu.” Sahut si Jo“ Jo… sadar, dia itu hanya adik kamu. Aku lakukin itu karena aku sayang sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu Jo.” Jawab si vita“ Karena kamu..penyakit adik aku semakin parah…kamu harus tahu vit…! Adik aku itu terkena lambung….apa kamu tak punya perasaan sedikit saja untuk dia.” Tanya si Jo“ Apa dia terkena penyakit lambung….itu tidak mungkin Jo, dia itu sehat…!” Jawab si Vita.Berdebatan antara kak Jo dengan kak Vita masih berlanjut sampai suara mereka berdua terdengar keras sekali, akhirnya Ayah pun keluar dan menghampiri kak Jo dan kak Vita.“ Apa kalian tidak bisa melupakan masalah kalian berdua sebentar saja. Apalagi kamu jo..Adik kamu tuh didalam lagi sakit bukannya buat Suasana tenang malah rebut sendiri.” Tanya si ayah“ Maaf yah!” Jawab si Jo“ Ayah mohon kepada kalian berdua agar tenang.” Sahut si ayah.Setelah itu ayah pun kembali munujur kamar rawat aku dengan diikuti kak Jo dan kak Vita. Kemudian ayah dan ibu meninggalkan kak Jo, kak Vita dan aku yang sedang tidur. Serta beliau menyuruh kak Jo menjaga aku yang sedang sakit. Kak Jo disebelah aku dia sedang mengeluarkan air matannya.“Dik, kamu cepat sembuh ya….. Kak Jo ingin kita bisa main bersama-sama lagi.” Rintihan kak Jo didalam hatinya.Diapun terus meneruskan apa yang di ucapkannya didalam hatinya.”Tuhan…Lihat adik aku yang masih polos ini, kau beri cobaan yang sangat berat sekali. Kenapa bukan aku Tuhan yang Kau beri cobaan ini. Kenapa mesti dia …! Tuhan… beri dia kekuatan didalam hatinya..!”Beberapa menit kemudian akupun mulai sadar dari tidur aku, dan orang pertama yang aku cari dan aku sebut cuman satu nama saja yaitu Kak Jo. Setelah mendengar suara aku, diapun senang sekaligus terkejut.“ Ini Kak Jo, gyet…” sahut kak Jo“ Kak..jangan pernah ninggalin gyeta ya kak…! Gyeta sayang sekali sama kak Jo.” Tanya si aku“ Kamu bilang apa sih…Jangan bilang yang aneh…Kak Jo tak kan pernah ninggalin kamu dik karena kak Jo sayang banget sama kamu.” Jawab si kak JoSetelah mendengar itu akupun senang banget. Tak tau harus bilang apa saat itu. Tapi ada satu penasaran yang buat hati aku tidak tenang. Akupun sampai sekarang masih bertanya-tanya dalam hati aku….Aku ini sebenarnya sakit apa sih! Aku sudah melakukan check up tapi sampai sekarang belum tahu hasilnya , sampai-sampai aku merasakan sakit di perut yang sangat luar biasanya sampai aku tidak bisa menahan rasa sakit itu. Akhirnya akupun menanyakan kepada kak Jo, karena aku yakin kalau dia tidak akan berbohong kepada aku.“ Kak, aku mau Tanya sesuatu ke kamu tapi kakak harus janji dulu sama aku.” Aku bertanya dengan perasaan takut“ Tanya apa dik, dan janji apa!” Jawab si kak Jo“Ok, kak harus Jawab dengan jujur ya…..” sahut si aku“Kakak pasti jujur sama kamu dik. Kamu Tanya apa sama kakak.” Jawab si kak Jo“ Kak, selama ini aku kan melakukan check up tapi sampai sekarang hasil testnya kok belum keluar ya…! Aku ini sebenarnya sakit apa sih kak!” tanya si aku“ Dik, kamu cuman sakit perut aja kok, kamu gak perlu piker yang aneh-aneh ya! Jawab si kak Jo ( dia menjawab dengan berat hati dan dia meminta maaf kepada adiknya di dalam hatinya )“ Kak Jo, jangan bohong, kalau aku hanya sakit perut aja tidk perlu bawa ke dokter kan. Kan bisa diobati dirumah.” Tanya si akuBerulang kali aku terus menyakan itu sama kak Jo tapi tetap kak Jo gak mau Jawab sejujurnya, akhirnya aku penasaran apa yang aku derita saat ini, maka aku mencari tau sendiri tentang kesehatan aku ini. Sampai saat itu aku pun masih tidak percaya dengan perkataannya kak Jo. Tiba-tiba ditengah obrolan aku sama kak Jo, suara kak vita memotong perbincangan aku dengan kak Jo dan kak Vita kembali menjelaskan yang terjadi kemarin didepan sekolah aku.“ gyet, kak Vita minta maaf ya…kak vita sudah buat kamu begini.” Jawab kak vita“ Gak papa kok kak vita, ini bukan salah kak vita ! tapi sebenarnya apa yang terjadi sama kak vita sehingga kakak menagis dengan histeri seperti itu?” tanya si aku“ Udah lupain saja, yang penting semua ini yang salah adalah aku karena aku sangat egois dan kakak jo tidak bersalah sama sekali.”Jawab si kak vitaAkhirnya akupun istirahat, dan aku boleh pulang dari rumah sakit sampai dokter mengijinkan dan Kak Jo pun ikut menungu sampai dia ijin tidak masuk sekolah tapi dia tetap belajar. Aku melihat semangat kakak aku yang pantang mundur, tidak mudah menyerah aku senang sekali. Sampai-sampai suatu saat aku ingin seperti kakak aku…!Sore harinya, dokter melihat keadaan aku saat itu, dan dokter ingin berbicara sama kak jo. Aku tidak tahu kenapa kak Jo disuruh keruangan dokter. Aku bertanya- tanya dalam hati aku,apa mereka membahas tentang kesehatan aku saat ini. Aku sangat ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka. Disitu aku mengikuti mereka dengan hati-hati sekali supaya mereka tidak tahu. Akhirnya akupun sampai diruang dokter, aku melihat mereka bicara dan sangat kebetulan sekali, saat itu pintu ruang dokter tidak tertutup dengan rapat dan akupun bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.Setiap kata dari mereka aku terus mendengarnya tapi ada sesuatu yang tidak aku ketahui selama ini ternyata akupun mengetahui. Sesuatu itu sangat buruk dan penyakitkan bagi aku. Aku mendengar perkataan dokter kepada kak Jo“ Lambung adik kamu sekarang sudah tidak normal lagi seperti lainnya. Dia harus melakukan sedot asam lambung setiap kali dia merasakan sakit seperti ini lagi.” Tanya si dokter“ baik dok.” Jawab si kak JoMendengar perkataan itu, aku merasa kaget,takut dan sedih. Semua badan aku terasa sakit sekali. Akupun tak kuat menahan itu, akhirnya aku menagis dengan kencang sekali dan mengeluarkan airmata yang sangat banyak sampai kak jo dan dokter mendengar suara aku, mereka mendekati aku.dan kak Jo bilang sesuatu ke aku.“ Dik, kamu… disini ngapain seharusnya kamu istirahat. Kamu belum sembuh dik.” Tanya si kak Jo“Kak, sampai kapan pun aku berisitirahat aku tidak akan sembuh. Aku akan tetap sakit seperti ini. Betul kan..kak.” Jawab si aku dengan meneteskan airmata“Jadi…kamu sudah tahu semuanya tentang penyakit kamu!” Jawab si kak Jo“ Kak jahat…kakak sembunyi’in ini dari aku. Apa aku tidak bisa terima apa yang sudah ditakdirkan. Apa kakak pikir aku tidak kuat apa yang diberikan oleh Tuhan…Jawab kak jangan diam” tanya si akuKak Jo pun hanya bisa diam dan melihat aku yang sedang menagis. Akupun tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata kepada kak Jo“Kakak kan yang menyuruh aku agar kuat dan tabah dalam hadapi semuanya…Kak, aku tau ini sangat tidak adil bagi aku dan kamu, tapi belum tentu tidak adil menurut Tuhan…Kakak percaya kan..kalau Tuhan itu maha pengasih kak. Tolong kak jo jangan pernah kasihan sama aku,kak.” Celoteh si aku“ aku ingin seperti merekaaa semuanyaaaaaaaaa meskipun dengan keadaan aku seperti ini.” aku mengatakannya sambil menagis.Aku terus mengeluarkan kata-kata tanpa henti dan kak Jo tak kuat melihat aku seperti ini, akhirnya kak jo memeluk aku dengan erat sekali dengan kasih sayang nya.“Maafin ya dik, kakak janji kakak tidak akan berbuat seperti ini. Kak percaya kalau kamu pasti kuat.”Jawab si kak Jo sambil meneteskan sedikit airmatanya dan mengusap airmata biar tidak kelihatan kepada akuKak Jo pun berpura-pura sabar, tabah dan tegar dihadapan aku tapi aku tahu kalau kak Jo sangat sedih sama seperti aku juga. Aku berpura-pura senang dan gembira seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Akhirnya aku dan kak Jo menjalani kehidupan ini seperti biasanya yang tak pernah terjadi apa-apa dengan aku.Kamipun saling melupakan apa yang sudah terjadi slama ini, aku dan kak Jo menjalani semuanya seperti biasanya yang tidak menganggap kalau aku ini sedang sakit tapi kak Jo sedang memperlakukan aku seperti anak lainnya yang sehat.Pada waktu itu, kak Jo sedang menonton TV, tiba-tiba terdengar suara handphone yang sedang berdering, kemudian dia melihat siapa yang menelponnya, dan yang menelponnya adalah teman laki-lakinya yang bernama Roy,“Halo…ya ada pa!” jawab Kak Jo“Joe, teman-teman kita yang duduk dibangku SMP mau mengadakan Pesta kumpul-kumpul loh! Semua diundang dan tak terkecuali. Makanya aku kasih kabar ke kamu, tapi pesta ini berpasangan loh, jadi gak boleh sendirian. Kalau kamu datang sendirian maka kamu tidak boleh masuk ke pesta itu.” Penjelasan Roy“ Tapi Roy, kamu tau sendirian kan, kalau aku tak punya cewek, yang aku punya sekarang cuman adek aku yang namanya Gyeta. Gimana nih, Roy! Apa aku masih bisa ikut ta….? Tanya Kak Jo“Ya….Gimana ya..susah sih kamu, makanya kalau cari cewek jangan suka milih-milih ntar jadinya seperti ini loh.” Jawab Roy“ Aduh….kok gitu sih, Aku kan sudah bilang ke kamu beratus-ratus kali kalau aku gak kan cari cewek karena aku sayang banget sama adek aku, makanya aku gak mau bagi kasih ke orang lain kecuali sama adek aku. “ penjelasan Kak Joe“ Ya..ya..maaf deh! Aku punya ide nih ke kamu? Tapi gak tau kamu setuju atau tidak dengan ide aku!” jawab Roy“ Ide apa-an nih….” Jawab kak Jo“ Gimana kalu kamu datang bersama adek kamu aja, kan teman-teman kita gak tau kan gimana wajahnya adek kamu, trus kamu bilang aja kalau itu cewek kamu, Beres kan.” Jawab Roy“ Gieeeela…., kamu tak papa ta..Kasih aku ide seperti itu, ya gak mungkin lah bro aku bilang seperti itu. Gimana dengan perasaan dia, pasti tersinggung.” Jawab Kak Joe“ Ya.. kamu bisa kasih tau kalau itu adek kamu, beres kan.” Jawab Roy“ Ya udah deh, thanks ya atas infonya dan idenya.” Jawab kak Joe“ Ya udah kalau gitu, bye…sampai ketemu dipesta ya!” jawab RoySetelah selesai percakapannya dengan Roy, dia langsung mematikan TV-nya dan menuju ke kamar aku. Sesampai didepan kamar aku, dia melihat adeknya yang sedang bersedih hati dan meneteskan airmata. Dia pun tak tega melihat adeknya seperti itu, dia langsung masuk kekamarnya tanpa mengetuk pinta dan dia langsung menyapa adeknya.“ Dek, kenapa kau menangis, apa yang sedang kau pikirkan sehingga kau meneteskan airmatamu yang berharga ini?” tanya Kak Joe“ Gak da apa-apa kak.” Jawab aku“Jangan lah kau bohong pada kakak mu ini, karena aku tau kamu. Coba ceritakan kepada kakakmu ini.” Jawab kak Joe“ Aaaaaaaku cuman berpikir, gimana dengan nasib aku jika kakak tak ada didekat aku, karena hanya kakak yang sayang sama aku. Sedangkan ayah dan ibu lebih sayang dan perhatian kepada adek. “ jawab aku“Dek, kamu gak boleh berkata seperti itu, apalagi itu adalah orang tua kita.” Jawab kak Joe“Ya aku tau kak, Tapi…….” Jawab aku“SSSssssssssssst…aku gak mau dengar lagi omongan seperti itu . Dek kamu harus janji sama kakak, kalau kamu akan selalu menjaga orang tua kita dan adek kita jika kakak tak ada. Kakak mau lihat kamu setegar baja, selembut sutra dan seterang bintang dimalam hari.” Jawab kak Joe“ Maksudnya…apa ya kak, aku tak ngerti nih.” tanya aku“maksudnya, kamu harus setegar baja jika kamu hadapi ujian apaun hidup ini, kamu harus selembut sutra untuk menacari solusinya atau berpikir positif dan kamu juga harus seterang bintang ketika hadapi semua orang. “ penjelasan kak Joe“ maksudnya seterang bintang..apaan sih!” tanya aku“Kamu harus tersenyum dimanapun, kapanpun didepan orang-orang, jangan kau tunjukkan kesedihanmu maupun sakit hatimu ke orang itu. Punyalah hati pemaaf yang seterang bintang dimalam hari, punyalah senyuman seindah sinar bintang. “ penjelasan kak Joe“ Ya kak, aku kan janji padamu. Ngomong-ngomong kak sedang apa kesini?” tanya aku“ kakak mau mengajak kamu kepesta teman-teman kakak dan ntar aku kenalin kamu ke teman-teman kakak. Kamu mau kan…!” tanya kak Joe“ Ya aku mau kok !” jawab aku“ kalau gitu sabtu besok jam 6 sore kita berangkat ya….” Jawab kak Joe“ Yup…beres deh.” Jawab akuSetelah itu kak Joe ninggalin kamar aku dengan begitu cepatnya sehingga aku pun tak sadar kalau kak Joe sudah tidak ada dikamarku.
 Bersambung.... di KEBAHAGIAAN YANG SIRNA


Read More..
Posted by the prince of tennis at 4:38 AM 0 comments
RASA CINTA

Di tempat itu kita bertemu…
Di mana ku pertama melihat kecantikan dan keanggunanmu…
Kecantikanmu itu membuatku jadi terpana melihatmu…
Keanggunanmu itu membuat ku semakin tergila padamu…
Ku tak mengerti apa artinya ini…?
Apa ini yang dinamakan jatuh cinta…?
  Tapi ketika ku melihatmu sedang bersama seseorang…
  Rasa cemburu melintas di depanku…
  Rasa kecewa datang mengisi hatiku…
  Berat hati ini tuk lupakan dirimu…
Oh tuhan…
Apakah ada seseorang untukku…?
Mungkin kau lama tuk jawabnya…
Tapi ku terus menunggu…
Sampai kau menjawabnya…

Read More..
Posted by the prince of tennis at 4:38 AM 0 comments
HATI YANG INGIN KEMBALI

Dulu kau bilang sayang padaku…
Dulu kau bilang cinta padaku…
Tapi mengapa kau tinggalkanku
tanpa ada alasan yang jelas…
Hati ini terluka ketika mendengar itu…
  Mungkin sekarang ku tak bisa denganmu…
  Mungkin sudah ada seseorang yang menemanimu…
  Tapi ku kan tetap mencintaimu…
  Meski rasa mu pada ku sudah tak ada…
Ku inigin kau kembali padaku…
Q ingin kita kembali bersama lagi…
Apakah aq bisa kembali padamu…?
Apakah ada harapanku tuk kembali padamu…?
  Jika harapan itu tak ada…
  Ku kan terus menunggu, sampai harapan itu ada…
  Karna kau cinta yang kan ku miliki selamanya…

Read More..
Posted by the prince of tennis at 4:37 AM 0 comments
MENCINTAMU
Mungkin kau tak menerimaku tuk singgah di hatimu…
Tapi ku kan coba buka sedikit hatimu untukku…
Meski kau terus menolakku…
Ku tak akan menyerah…
Walau kau caci maki diriku dengan kata - katamu...
  Kalau kau memintaku tuk menjauh darimu…
  Ku kan jauh…
  Tapi jangan kau jauhkan hatiku untukmu…
  Kalau kau memintaku tuk hilang di dunia ini…
  Ku kan hilang…
  Tapi jangan kau hilangkan rasa cinta dan sayangku padamu…
Karna ku sangat mencintaimu…
Karna ku sangat menyayangimu…
Wahai kekasih hati...

Read More..
 

Semangat Berbahasa © 2008 using D'Bluez Theme Designed by Ipiet Supported by Tadpole's Notez Based on FREEmium theme